Vaksin merupakan antigen (mikroorganisma) yang diinaktivasi atau dilemahkan yang bila diberikan kepada orang yang sehat untuk menimbulkan antibodi spesifik terhadap mikroorganisma tersebut, sehingga bila kemudian terpapar, akan kebal dan tidak terserang penyakit. Bahan dasar membuat vaksin tentu memerlukan mikroorganisma, baik virus maupun bakteri. Menumbuhkan mikroorganisma memerlukan media tumbuh yang disimpan pada suhu tertentuMikroorganisma yang tumbuh kemudian akan dipanen, diinaktivasi, dimurnikan, diformulasi dan kemudian dikemas.
Rangkaian proses pembuatan vaksin berada dibawah regulasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) yang juga dikenal sebagai Good Manufacturing Practice (GMP) sehingga produk akan terjaga dalam kualitas yang baik.
Setiap lot yang diproduksi harus lulus pengujian mutu (Quality Control), dan jaminan mutu (Quality Assurance). Setiap lot produk yang dihasilkan akan dilaporkan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk kemudian diperiksa dan bila sudah lulus, BPOM akan mengeluarkan sertifikat lulus uji untuk setiap lot vaksin. Dengan demikian dapat dilihat bagaimana setiap lot yang dihasilkan sangat terjaga kualitasnya.
Pada tahun ini, Bio Farma menargetkan produksi vaksin hingga 3,1 miliar dosis guna memenuhi kebutuhan nasional. Prioritas utama dari pemberian vaksin di tanah air meliputi lima juta bayi, 12 juta anak usia sekolah, dan 23 juta wanita usia subur. Saat ini Bio Farma memproduksi 14 jenis vaksin dan empat jenis serum yang berstandar WHO.
Mengingat kami memiliki kapasitas yang besar, selain memenuhi pasar dalam negeri, kami juga memenuhi kebutuhan vaksin global, produk vaksinnya telah digunakan di lebih dari 130 negara.
Selain itu Bio Farma melakukan inovasi vaksin Hepatitis B menjadi terapeutik atau vaksin terapi bagi pasien yang menderita Hepatitis B.
Dinas Pendidikan Lhokseumawe mengatakan, rata-rata wali murid saat ini mencabut surat persetujuan vaksinasi untuk anak mereka yang sekolah di SMA atau SMK di Kota Lhokseumawe. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe, Anwar menyebutkan, bahwa awalnya 90 persen siswa sudah setuju dengan vaksinasi pada 26 sekolah di Lhokseumawe. Bahkan, sekolah sudah mengantongi izin dari para wali murid.
“Sekarang (rata-rata) tinggal 50 persen yang bersedia vaksinasi,” katanya melalui telepon, Jumat (8/10/2021). Dia mencontohkan, misalnya seperti di SMKN 2 Lhokseumawe, total siswa sebanyak 1.017 orang dan baru 500 yang sudah mendaftar untuk vaksinasi. “Mungkin orangtua siswa takut karena berita vaksinasi untuk siswi SMK yang sempat muntah-muntah itu. Meski begitu kita terus berupaya agar wali murid mau anaknya divaksin demi kesehatan bersama,” sebutnya.
Dia mengimbau wali murid tak perlu khawatir akan vaksinasi. Sebab, sambung Anwar, vaksinasi aman untuk siswa. “Tim dokter juga akan memeriksa detailnya apakah bisa divaksin atau tidak. Kalau ada riwayat penyakit lain pasti tidak divaksin,” terangnya. Saat ini seluruh kepala sekolah, sambung Anwar, sedang menyosialisasikan soal vaksinasi ke seluruh orangtua siswa di Kota Lhokseumawe. “Kita teruskan program vaksinasi ini. Sembari sosialisasi terus berjalan.
artikel terkait : Banyuwangi Bakal Jadi Satu-satunya Tempat Pendidikan Pilot Seaplane di Asia Tenggara
