Faktor Pemicu Resesi
Beberapa faktor pemicu resesi ekonomi global yang dikhawatirkan aka terjadi tahun depan, yaitu:
1.Pertama, pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 memang sudah mulai mereda dan banyak negara yang telah membebaskan warganya untuk beraktivitas seperti biasa. Namun pada saat meluasnya wabah Covid-19 pada awal tahun 2020 sampai dengan awal tahun ini, aktivitas ekonomi global menurun drastis. Setiap negara lebih fokus menangani Covid-19 dan menerapkan pembatasan aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi secara global pun mengalami kontraksi. Pada saat yang sama, banyak negara melakukan proteksi atas hasil pangan untuk mengantisipasi wabah Covid-19 yang berkepanjangan dan berakibat pada meningkatnya harga pangan karena kurangnya suplai. Indonesia juga sempat mengalami resesi ekonomi pada akhir tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.
2.Kedua, perang Rusia-Ukraina. Belum pulih perekonomian global akibat pandemi Covid-19, meletus Perang Rusia-Ukraina. Perang Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak bulan Februari lalu, telah menghilangkan PDB global hingga USD2,8 triliun (Bisnis Indonesia, 28 September 2022). Perang RusiaUkraina mengganggu rantai pasok global sehingga menimbulkan krisis terutama di sektor pangan dan energi, yang pada akhirnya mengakselerasi laju inflasi. Perang Rusia-Ukraina merupakan faktor utama penyebab terjadinya resesi ekonomi global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2023 mendatang.
Kesiapan Indonesia dan Langkah Antisipasi
- Kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih kuat menghadapi gejolak ekonomi global yang mengarah pada resesi ekonomi. Potensi untuk bertahan menghadapi risiko terjadinya resesi ekonomi cukup besar karena ditopang oleh PDB yang masih positif serta tingkat inflasi yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara lain. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, kinerja perekonomian Indonesia berada pada level yang positif. Artinya, aktivitas perekonomian secara keseluruhan mampu menopang pertumbuhan ekonomi walaupun dibayang-bayangi ancaman inflasi. Aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh dengan baik. Selain itu, tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi juga baik (Media Indonesia, 1 oktober 2022).
- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga pada Triwulan II Tahun 2022 masih tumbuh sebesar 5,51%, berkontribusi 51,47% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,44% pada periode tersebut. Sementara investasi tumbuh sebesar 3,07% dan berkontribusi 27,31% terhadap perekonomian. Indonesia juga diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas pada tahun ini yang meningkatkan kinerja ekspor sehingga tingkat inflasi dapat lebih rendah dari banyak negara lain (Kompas, 28 September 2022). Selain itu, kinerja positif perekonomian Indonesia juga ditunjukkan dengan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi dan indeks kepercayaan konsumen (IKK) yang tetap optimis. PMI bulan September tercatat sebesar 53,7, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 51,7. IKK juga meningkat dari 123,2 pada bulan Juli menjadi 124,7 pada bulan Agustus (Bisnis Indonesia, 4 Oktober 2022).
- Dengan melihat berbagai indikator ekonomi yang cukup positif tersebut, Indonesia optimistis dalam menghadapi ancaman akan terjadinya resesi ekonomi global pada tahun 2023. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lengah dan harus melakukan langkah antisipatif untuk meminimalisasi dampak dan menghindari jeratan resesi ekonomi global tersebut. Ancaman resesi ekonomi global terhadap Indonesia akan ditandai, antara lain: 1) permintaan ekspor produk jadi Indonesia seperti tekstil dan kerajinan menurun, terutama dari AS, Eropa, dan Tiongkok; 2) penurunan harga beberapa komoditas minyak mentah, minyak sawit mentah (CPO), dan logam dasar; 3) kenaikan suku bunga di negara-negara maju yang menyebabkan aliran modal mengalir ke luar negeri; 4) pertumbuhan ekonomi melambat; dan 5) meningkatnya beban biaya usaha akibat depresiasi rupiah.
- Langkah antisipatif yang perlu dilakukan oleh pemerintah antara lain: pertama, melakukan percepatan program pemulihan ekonomi nasional, termasuk upaya merealokasi anggaran yang belum terpakai. Kedua, meningkatkan konsumsi pemerintah. Ketiga, memperkuat ekonomi domestik melalui pemberdayaan UMKM. Keempat, memperbanyak ekspor dan mengurangi impor yang tidak perlu. Kelima, meningkatkan nilai bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat miskin. Keenam, menghemat anggaran dengan menghentikan proyekproyek berbiaya tinggi. Ketujuh, memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah; dan kedelapan, mengembangkan energi hijau sebagai alternatif dari penggunaan energi fosil.
- Stabilisasi harga pangan dan energi di dalam negeri juga perlu dilakukan sampai akhir tahun 2022 dan pada tahun 2023 mendatang. Strateginya adalah dengan menjaga pasokan dan rantai pasok di 16 seluruh wilayah Indonesia. Hal ini cenderung dapat memicu inflasi jika tidak dikelola dengan baik. Inflasi yang tinggi menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi karena daya beli sebagian besar masyarakat menengah ke bawah akan turun drastis.
- Selain langkah-langkah antisipatif tersebut, pemerintah juga harus mampu mengelola APBN Tahun Anggaran 2023 yang akan datang dengan fleksibilitas yang cukup tinggi. Perlu melihat dengan hati-hati komponenkomponen penerimaan negara, baik pajak, bea cukai, maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) untuk mengidentifikasi kemungkinan dinamika global yang akan memengaruhi target pendapatan negara tahun depan. Revisi APBN dapat dilakukan dalam tahun berjalan untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi global.
- Prediksi terjadinya resesi ekonomi global pada tahun 2023 mendatang kemungkinan akan menjadi kenyataan. Beberapa indikasi mengarah pada terjadinya resesi ekonomi global. Setelah pandemi Covid-19 mereda, perang Rusia-Ukraina ditengarai menjadi faktor utama penyebab potensi terjadinya resesi ekonomi global. Perang Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasok global sehingga menimbulkan krisis terutama di sektor pangan dan energi, yang pada akhirnya mengakselerasi laju inflasi. Tingkat inflasi menjadi sangat tinggi dan memaksa bank sentral negaranegara di dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga acuannya, yang akan memukul pertumbuhan ekonomi dan dapat menyebabkan terjadinya resesi ekonomi global. Walaupun kinerja perekonomian Indonesia cukup baik dan berada pada zona positif, pemerintah tidak boleh lengah menghadapi ancaman terjadinya resesi ekonomi global karena dapat berdampak pula ke Indonesia. Bahkan dapat menyeret Indonesia ke “jurang” resesi ekonomi. Langkah antisipatif untuk menjaga dan mendorong kinerja perekonomian nasional harus dilakukan. APBN Tahun Anggaran 2023 juga harus dapat dikelola dengan fleksibilitas tinggi, menyesuaikan dengan kondisi ekonomi global.
artikel terkait : Mewaspadai Ancaman Resesi Global
